Pengajaran Bahasa Arab Terprogram

Salah satu metode pengajaran bahasa, termasuk bahasa Arab, adalah Metode Pengajaran Terprogram. Dibandingkan dengan metode-metode pengajaran lain, metode pengajaran ini relatif lebih muda, kalau tidak mau dikatakan sangat baru. Cikal bakal metode ini pengajaran bahasa ini berasal  dari metode pengajaran berprogram, atau berprograma, atau terprogram yang diperkenalkan secara luas oleh Psikolog Amerika bernama B.F. Skinner pada tahun 1950 M.

Secara umum, metode ini lebih bertumpu pada alat-alat pengajaran dan keaktifan peserta didik. Di mana peserta didik dituntut untuk mengikuti secara aktif-progresif program-program yang sudah dirancang oleh pengajar atau lembga pengajaran, baik dalam bentuk modul maupun dengan menggunakan alat-alat pengajaran, seperti tape recorder dan Video atau film.

Metode pengajaran berprograma (terprogram) adalah: suatu cara mengajar dengan mempergunakan alat-alat yang bekerja serba otomatis atau kunci-kunci jawaban tertulis yang dibuat sedemikian rupa, sehingga murid dapat mempelajari sendiri bahan-bahan yang telah tersusun secara sistematis yang menyebabkan murid-murid dapat berdialog dengan bahan-bahan tersebut atas tanggung jawab sendiri. (Prof. Dr. Ramyulis)

Bentuk Pengajaran Bahasa Arab terprogram

  • Pola Linear (al-tatâbu’i)

Pola ini dikembangkan oleh B. F. Skinner. Dinamai linear karena murid bergerak secara progresif dari satu unit ke unit lain dengan satu arah (satu garisan) yang berkelanjutan. Apabila respon atau jawaban  murid  pada unit pertama benar,  maka ia pindah ke unit kedua, dan demikian seterusnya hingga di akhir program. Apabila salah memberikan respon, maka ia harus mengulangi lagi hingga menemukan jawaban yang diminta (benar), dan kemudian pindah ke unit selanjutnya.

  • Pola bercabang  (al-tafarru’i)

Pola ini diperkenalkan oleh Norman A. Crowder, seorang pengamat pada Lembaga Pendidikan Nasional Amerika Sarikat

Prinsip-prinsip Metode Pengajaran Bahasa Arab Terprogram

Seperti halnya metode-metode pengajaran bahasa arab yang lain, metode pengajaran ini juga mempunyai prinsip-prinsip dasar, yaitu:

  • Dalam pengajaran terprogram dikehendaki proses interaksi antara guru dan murid secara tidak langsung, karena proses belajar dilakukan dengan menggunakan perantara berupa alat (teaching machine) dan buku teks yang bertindak sebagai sarana mengaktfkan murid dalam proses belajar.
  • Pengajaran terprogram menganut sistem belajar mandiri, yaitu dengan cara berdialog dari satu unit kalimat ke unit kalimat berikutnya yang disusun sedemikian rupa, sehingga unit-unit tersebut dapat berbicara langsung dengan murid. Setiap unit mengarahkan murid kepada empat hal, yaitu: apa yang harus diperhatikan; apa yang harus diperbuat; menguji jawaban, dan jika salah bagaimana memperbaikinya; dan apa yang harus diperhatikan sesudah itu sebagai langkah lanjutan
  • Rangkaian kegiatan dalam program dilakukan secara aktif-progresif, yang mana murid belajar dengan maju setapak demi setapak dan menguji kebenaran hasil responnya, sehingga akhirnya sampai pada suatu kesimpulan.
  • Bahan pengajaran terprogram disusun menurut prinsip dan pola tertentu yang telah diprogramkan, sehingga terkadang murid tidak terlalu membutuhkan guru dalam belajar.

Langkah-langkah Membuat Program

Untuk mendapatkan program pengajaran yang baik diperlukan langkah-langkah yang terencana secara sistematis.

  • Persiapan

Mempersiapkan suatu program, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

  • Pemilihan Topik. Topik yang akan dijadikan program hendaknya: diperoleh dari pelajaran yang telah dikenal (dipahami); dibatasi pada bagian pelajaran yang cukup kecil; dan diambil dari pelajaran yang mudah diprogramkan.
  • Pembuatan outline (pembagian topik dalam bentuk garis besar).Topik yang sudah dipilih haruslah dibagi ke dalam sub-sub topik selengkap mungkin. Bahan diolah dari referensi yang tersedia baik referensi primer maupun skunder, dari bahan-bahan yang diajarkan oleh guru, tugas-tugas yang diberikan kepada murid-murid.
  • Rumusan Tujuan. Tujuan yang akan dicapai dirumuskan secara khusus. Perumusan tujuan hendaknya berpangkal pada suatu tujuan yang lebih luas, sehingga dengan pengkhususan itu perumusan tujuan berbentuk piramida.
  • Pretes (uji coba). Tes ini berguna untuk mengetahui sampai dimana kesanggupan murid-murid. Dengan hasil tes inilah program baru disusun atau dimulai, sehingga program yang dibuat itu tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah.
  • Penulisan Program

Dengan berpedoman pada perinsip terdahulu, disusunlah program sesungguhnya. Adapun langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  • Memformat bahan dalam bentuk bingkai atau unit. Unit atau bingkai adalah bagian-bagian kecil dari mata pelajaran yang dapat menimbulkan respon murid-murid. Unit yang Bik mengandung empat unsur: adanya prangsang dan hubungan, isyarat yang diperlukan untuk suatu respons yang dapat dipercaya, respons  terhadap perangsang dan berisi bahan yang diperkaya sehingga murid tertarik mempelajarinya. Bahan hendaknya berangsur-angsur didahului oleh isyarat atau gambaran sebelumnya.
  • Menyediakan respons. Bagian lain yang perlu dalam suatu bingkai adalah agar menimbulkan banyak kegiatan pada murid-murid; berpikir, bertanya, mencari jawaban dan menemukannya sendiri, atau disebut juga bingkai menimbulkan respons kritik pada murid-murid.
  • Melengkapi bingkai dengan jawaban yang benar atau perbaikannya. Untuk suatu bingkai selalu tersedia respons (jawaban) yang benar. Dan apabila murid berbuat salah, ia dapat memperbaikinya dan mencari sendiri pada tempat yang telah disediakan.
  • Menggunakan isyarat untuk membimbing respons murid. Isyarat diusahakan untuk membuat murid merespons terhadap respons yang benar.
  • Menyusun bingkai dalam urutan yang baik. Tiap bingkai hendaknya disusun menurut urutan yang baik. Urutan hendaknya didasarkan pada lukisan bahan yang akan diajarkan dan didasarkan atas kondisi-kondisi belajar (generalisasi, kontinuitas, dan praktis).
  • Meminta bantuan orang berpengalaman. Bingkai yang telah disusun hendaknya diolah dengan bantuan orang berpengalaman atau mengetahui lebih banyak tentang pembuatan program, baik mengenai isi, ketepatan menyusun bingkai maupun penggunaan kalimat dan kata-kata.

Try out dan revisi program

Program yang telah disusun perlu diuji cobakan kepada sekelompok murid untuk memperoleh gambaran bagaimana reaksi mereka yang membaca program itu. Melalui hasil percobaan ini kemudian dianalisa kesulitan-kesulitan dan kekurangan-kekurangannya. Selanjutnya diadakan perbaikan-perbaikan.

Plus-minus metode pengajaran bahasa Arab terprogram

Keistimewaan

  • Bahan pelajaran sangat banyak disediakan sehingga sifat individual murid-murid dapat diperhatikan.
  • Murid yang pintar mendapat kesempatan yang banyak untuk maju
  • Menambah aktivitas diri (self activity) bagi murid-murid
  • Melatih murid untuk berbuat sendiri dan bertanggung jawab sendiri
  • Murid-murid dapat belajar sesuai dengan kemampuannya, karena setiap murid menghadapi alat secara individual
  • Metode ini memunculkan berbagai alat-alat pengajaran.

Kelemahan

  • Proses belajar yang seperti ini sangat sulit membentuk keperibadian yang bulat (yang bekerjasama)
  • Pengajaran dengan metode ini sangat individualistis dan intelektualistis
  • Sulit membuat program
  • Membutuhkan biaya yang besar untuk mengadakan alat-alat pengajaran
  • Mesin pengajar tidak d4apat merasakan apa yang dirasakan oleh murid
  • Fungsi guru sebagai pengajar diabaikan oleh murid-murid
  • Karena alat-alat yang terbatas maka tak dapat melayani semua murid
  • Kegiatan murid-murid sukar untuk dipantau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: